Intro: dari Divisi, Hobi, menjadi Profesi
Masuk divisi yang sesuai dengan passion kita adalah sebuah kesenangan tersendiri bagi semua orang. Tapi, bagaimana jadinya jika divisi yang ada tidak ada satupun yang sesuai dengan passion kita?
Hobiku bermain musik, tapi memang ada divisi musik di Seribu Susu? Tidak. Lalu bagaimana kelanjutannya?
Hari pertama kumpul bersama teman-teman dari SMP se-DIY membuatku bingung: divisi mana yang akan aku pilih?. Dengan dasar ada Afrian di divisi DekDok (Dekorasi dan Dokumentasi), akhirnya tanpa ragu aku mengikuti wawancara dengan Afrian.
Setelah diumumkan hasilnya, aku berhasil masuk divisi dekorasi dan dokumentasi Seribu Susu #7. Senang? Iya. Bingung? Apalagi itu. Skill fotografi yang pas-pasan karena cuman asal jepret–asal motret ketika study tour maupun acara sekolah yang lain bikin tambah bingung aku sebenarnya bakal ngapain di sini.
Awal berproses bersama 11 orang rekan se-divisi sangat menyenangkan. Mulai dari pembagian tugas, jadwal dokumentasi kotak berjalan, tukar jadwal, bikin logo, desain poster, edit co-card panitia yang deadline nya sangat mepet, dan tentunya dokumentasi hari H yang penuh dengan cerita tak terduga dari teman-teman DekDok.
Cerita yang paling lucu ketika di divisi ini adalah waktu cari orang untuk ikut survei di Gunungkidul dan Kulon Progo yang letaknya sangat jauh dari basecamp. Lalu ada temanku yang bertukar jadwal dokumentasi kotak berjalan sama aku. Mendekati hari H divisi ku bekerja keras mengedit foto yang akan digunakan untuk co-card dari semua anggota Seribu Susu, dan masih ada yang belum mengumpulkan di mana itu datang dari divisi DekDok sendiri. Terakhir, aku baru kenal sama rekan sesama DekDok karena kita boncengan ke Gunungkidul dan akhirnya jadi teman sampai sekarang.
Berawal dari dokumentasi, aku mulai menekuni fotografi sejak itu. Bermodal Nikon Coolpix L320 dan Canon EOS 350D aku iseng-iseng bawa kamera ke sekolah lalu jepret sana jepret sini bersama teman-teman baruku di SMA. Event pertama aku sudah mendaftar divisi dokumentasi, tapi akhirnya aku harus mengalah karena ditarik ke divisi musik.
Perjuangan tak berakhir sampai di situ. Ikut lomba foto hingga bolos sekolah untuk hunting di Pasar Beringharjo juga meninggalkan kesan tersendiri. Ikut ekskul fotografi di sekolah dan sering dimintai bantuan untuk dokumentasi juga sangat seru bagiku. Meskipun di event-event selanjutnya aku tidak mendaftar divisi yang sama untuk sementara waktu karena laptopku tidak bisa digunakan untuk memindahkan foto dari kamera, di semester 2 ini aku bersyukur mendapat kesempatan untuk berkontribusi di event sekolah sebagai bagian dokumentasi walau di tengah pandemi Covid-19 ini.
Selama pandemi, aku memiliki rencana untuk upgrade kamera. Nikon D90, kamera milik teman se divisi di Seribu Susu yang dipinjamkan ke aku karena dia mendadak pergi entah kemana, DSLR pertama yang aku gunakan, sekaligus kamera yang sempat aku impikan, akhirnya terbeli dengan jerih payahku mencari tambahan uang dengan bekerja sama dengan kakak kelas yang mengikuti lomba FIKSI. Meskipun hasilnya tak seberapa, tapi ada rasa kepuasan tersendiri ketika kamu mampu membeli kamera yang kamu impikan dengan hasil kerja kerasmu sendiri.
Kadang-kadang aku juga mengikuti lomba fotografi untuk menambah teman dan pengalaman. Ya, walau kurang beruntung tapi apa salahnya mencoba. Toh, aku jadi tahu kriteria foto yang dinilai juri pantas untuk menjadi yang terbaik seperti apa. Mungkin ini juga merupakan ajang untuk bisa membanggakan orang tuaku, jika aku kurang mumpuni di bidang akademik. Setidaknya aku sudah berjuang hingga menyisihkan waktu untuk belajar intensif lalu pergi keluar hunting foto sebagai media praktek untuk memahami fotografi.
Comments
Post a Comment